Kisah Inspiratif : Tentang Tiga Orang 'Tukang'

Kayla Mubara
Koleksi pribadi

Beberapa waktu lalu saya membuat blogspot tentang kisah inspiratif dari Seorang Ibu dan Para Pemburu Ketamakan.  Hari ini, ada hal sederhana lain yang menyentuh kesadaran kalbu saya. 
Hampir empat tahun kami tinggal di panti asuhan. Tempat mulai berbeda, anak-anak berbeda, dan suasana pun mulai berbeda. Dari tahun ke tahun. Ada satu yang masih sama, tukang yang membantu di panti asuhan. Kadang membuat kamar, memasang lantai, dipanggil bila ada mesin air yang rusak. Tidak terjadi pergantian tukang hingga sekarang. 

Mereka adalah tiga orang bapak yang bersahaja. Sangat. Pada saat sebagian besar berupaya memenuhi jargon, "Jangan mau jadi karyawan, jadilah bos. Meski untuk pertama kali bekerja merangkap jabatan, dari Direktur Utama, sampai karyawan tunggal." Kalimat tepatnya memang bukan begini, setidaknya memiliki makna yang sama.

Tiga bapak ini sangat menikmati pekerjaan mereka. Bila jam setengah delapan sudah datang, mereka langsung mengambil bagian apa yang bisa dilakukan. Begitu adzan Zuhur berkumandang, ketiganya langsung berhenti, membersihkan diri dan bersuci dengan air wudlu. Sesegera mungkin menghadap Yang Maha Kuasa. 

"Kita makan dulu," ajak seorang di antara mereka. 
Dengan langkah yang tetap bersemangat, ketiganya menuju dapur panti asuhan dan makan siang. Sekitar 30 menit sesudahnya para tukang istirahat. Kadang baca-baca buku di rak ruang sebelah imam masjid panti, atau duduk bercanda dengan kedua anak saya yang belum juga tidur siang.

Jika dibuat kategori pekerjaan, mereka pun bernama karyawan. Tapi, tidak semua karyawan menghentikan pekerjaan saat panggilan bersujud terdengar. Pembagian waktu yang mereka buat seolah otomatis. Dan yang saya ambil hikmahnya adalah sebuah pembiasaan baik yang terus-menerus akan membekaskan langkah ringan bila dilakukan.

Mereka pulang sekitar jam empat sore. Pekerjaan yang dilakukan pun masuk kategori rapi, bersih, dan menyenangkan yang minta tolong. Bila Anda kebetulan singgah di Panti Asuhan Yatim Putri Khoirun Nisa'-Yogyakarta, seluruh halaman lantai paving blok, mereka yang memasang. Sedikit demi sedikit. Dari hari ke hari. Luasnya halaman bisa dipasangi dengan maksimal. 

Bila boleh mengambil kesimpulan, jika semua orang menjadi bos, apa mereka tidak butuh karyawan? Apa pun pekerjaan yang dilakukan, semua memiliki kesempatan sama di mata Yang Maha Kuasa. Mempunyai peluang untuk bersujud, bersyukur, dan memohon apa saja pada-Nya. Dan mencintai apa yang dimiliki masih lebih baik daripada ingin mencintai apa yang belum ada.

Mudah-mudahan tulisan super sederhana ini bisa menjadi kisah inspiratif  yang bermanfaat. Aamiin.

Comments

  1. Maksimal banget. sangat menginspirasi...

    ReplyDelete
  2. salut pada mereka ini, tak lupa pada Sang Maha Pencipta

    ReplyDelete
  3. setiap orang punya keahlian dan bagian masing-masing, misal mau benerin keran kalau bukan ahlinya pasti ngga akan bisa...

    ketiga bapak tadi telah menikmati dan mensyukuri keahlian dan bagian yang telah diberikan Allah kepada mereka...semeleh, kata orang jawa... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Benar, satu dan yang lain saling membutuhkan. Saling berdampingan, serta saling melengkapi untuk sama-sama dapat berbagi.

      Delete
  4. Mensyukuri setiap keahlian kita ya Mbak ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Begitu lah kira-kira, Mbak Titis Ayuningsih.

      Delete
  5. Pekerjaan apa pun saat azan wajib lah

    Inspiratif banget

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sekaligus menegur saya yang melihat mereka. Kadang masih tarlu = entar melulu

      Delete
  6. Jadi karyawan atau jadi bos, ketika adzan berkumandang hendaknya segera menyudahi pekerjaan dan menghadap-Nya ya, Mbak :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin, Pak Akhmad Muhaimin Azzet. Ini touch banget untuk ibu-ibu seperti saya.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ... sangat senang bila Anda meninggalkan komentar, atau sharing di sini. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Salam santun sepenuh cinta
Kayla Mubara