Kisah Inspiratif : Seorang Ayah, dan Dua Bocah yang Merintih

Kisah Inspiratif
Koleksi Pribadi

Beberapa waktu lalu saya sudah menuliskan Kisah Inspiratif Tentang Tiga Orang Tukang. Bagaimana mereka tetap disiplin walaupun sedang bekerja. Mengutamakan Dia dari yang lain. Sekarang saya akan membuat blogspot tentang sosok ayah. Sedikit menyerempet Hari Ayah. Kelewat sedikit, anggap tak masalah. Gitu aja biar enggah susah.

Cerita dimulai ...
"Aku mau ama abi ...i. Abi!"

Seorang anak berusia dua tahu lebih terus menangis. Pelukan dan usapan umminya seolah tak mampu meredam rasa. Badannya deman, kedua mata mengeluarkan air mata tanpa jeda. Sudah ditimang-timang, dia tetap memanggil abinya.

"Yuk, kita tunggu di dekat jalan."

Setelah mengirimkan pesan kepada suaminya, wanita 30 tahun lebih itu menuju arah jalan raya. Demi menghibur anak keduanya. Menunggu pulangnya si abi--ayahnya. 

Sudah seperempat jam. Deru motor belum terdengar. Begitu gerimis turun, wanita berwajah lelah itu mengajak pulang. Gerimis biasanya tidak baik untuk yang demam. 

Waktu yang dinantikan tiba. Abinya pulang, rengek tangis menyambut dengan bentangan kedua tangan. Laki-laki berkulit cokelat segera meletakkan tas, beganti pakaian dan menggendongnya. Ah! Rintih itu sungguh menggambarkan bahwa betapa berarti gendongan seorang ayah.

Sebelumnya

Kakak si anak yang merengek juga mengalami hal sama. Mungkin musim pancaroba dan badan kurang fit. Dia demam juga. Memanggil abi, dan mengharap gendongannya saat orang yang dicari masih belum pulang.

Bila malam menjelang dan keduanya sama-sama kurang sehat. Si wanita--ibu dari anak-anak itu hanya menyiapkan parutan bawang merah, mencampur dengan minyak telon, sambil terkantuk-kantuk. Laki-laki yang dipanggil abi yang memijatkan, kemudain memeluk kedua anaknya penuh kasih. Hingga terlelap bersama.

Pada waktu sehat. Tidur bersama ummi atau abi tidak masalah. Kadang berebut sama ummi, kadang sama abi. Namun, pada saat sakit mereka terus mencari abinya. Ah, sangat mungkin bila si ummi merasa capek, maka dia menurunkan anak dari gendongan. Sementara suaminya terus menggendong.

Kelak, jika anak-anak ini dewasa, mereka akan mendapat cerita yang berharga dibanding sagabat-sahabat yang mengelilinginya.

Laki-laki yang dipanggil abi itu, sumai saya. Dan kedua anak yang merintih adalah dua amanah kami.

Mudah-mudahan postingan yang sanya anggap Kisah Inspiratif ini bisa menjadi inspirasi ayah lain. Dekap mereka sebelum kembali dalam dekapan Yang Kuasa. Tidak raga, bisa rasa, pun batinnya. Sepenuh Cinta.

Comments

  1. Aamiin. Semoga kedekatan ayah dan anak2 akan menghasilkan anak2 yg penuh welas asih.

    ReplyDelete
  2. Aamiin. Semoga kedekatan ayah dan anak2 akan menghasilkan anak2 yg penuh welas asih.

    ReplyDelete
  3. anak-anak punya intuisi yang tepat kapan perlu dekat dengan ibu atau ayahnya ya mbak Khayla... :)

    ReplyDelete
  4. Amiin. Dekap mereka sebelum mereka dewasa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kelak mereka sudah tak bisa didekap lagi secara fisik.

      Delete
  5. Manis sekali ya? kedekatan ayah anak. Semoga kelak anak2 Mbak Kayla bisa menjadi anak yg berbakti kepada orangtuanya. Amin.

    #Bismillah :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aamiin untuk do'a kebaikannya, Mbak Arinta Sari.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ... sangat senang bila Anda meninggalkan komentar, atau sharing di sini. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Salam santun sepenuh cinta
Kayla Mubara