Pasar Pahing, Tegaltirto, Yogyakarta (1)

Pasar Pahing Sleman
Pasar Pahing tampak dari pinggir Jl. Wonosari Km.10
Embusan angin menyapa petani di sawah. Suara kambing mengembik membuat visual anak-anak saya tertarik mengamati. Kandang kambing di tengah sawah, persis di tepian sebuah desa menjadi tempat mereka melihat dengan dekat binatang kaki empat itu. Kami melewatinya, karena akan menuju Pasar Pahing. Letaknya memang tidak terlalu jauh dari Panti Asuhan Yatim Putri Khoirun Nisa'--tempat kami tinggal.

Jarak antara tempat tinggal kami ke Pasar Pahing terkesan jauh, karena jalan yang memutar desa terlebih dahulu, baru sampai. Kalau saja ada jalan pintas, antara belakang panti asuhan ke pasar, maka sawah yang berpetak-petak itulah jalannya. 

Pasar Pahing biasanya baru ramai begitu hari agak siang. Jika datang terlalu pagi maka beberapa penjual belum datang. Kira-kira jam tujuh pagi para pedagang sudah mulai menggelar dagangan mereka. Saya masuk melalui pintu samping, setelah melewati penjual pisang yang letaknya ada di Timur pasar.

Penjual di Pasar Pahing
Ini penjual pisang di luar Pasar Pahing 
Dari arah masuk, saya bisa melihat dua ibu yang menjual telur bebek dan telur ayam kampung di dalam tenggok. Kami belum saling kenal nama, tetapi biasa bertegur sapa dengan cara mengangguk dan bertukar senyuman.

"Tigane, Bu?"

Begitu cara ibu penjual telur ketika menawarkan dagangannya. Saya mampir ke sana tergantung kebutuhan. Jika persediaan telur habis, ya beli. Kalau belum, cukup tersenyum dengan memberi jawaban ringan, "Dereng telas, Bu."

Ketiga penjual yang saya temui sebelum masuk ke dalam pasar sama-sama memakai pakaian tradisional, kebaya sederhana. Tak lupa kain atau yang biasa disebut jarik melengkapinya.

Dua Penjual Telur
Kami memarkir motor di depan bengkel yang belum buka. Biasanya saya masuk pasar sendirian. Demikian pula hari itu. Dua anak saya ikut abinya menuju tempat penyembelihan kambing. Ada warung bakso sangat ramai di depan Pasar Pahing. Di tepi warung itu ada sungai kecil, di dekat sanalah biasanya anak-anak melihat rutinitas karyawan penjual bakso (membersihkan daging kambing yang sudah dipotong).


Begitu melangkah sekitar sepuluh jengkal, baju-baju tidur bermotif batik menyambut kedatangan saya. Di dekat penjual baju, ikut berderet penjual lain yang menawarkan dagangan serupa. Ada tempat parkir juga di dalam pasar. Sambil mengingat-ingat daftar belanja yang tidak ditulis, hidung membaui sedapnya pukis hangat. Dengan lima ribu rupiah, saya bisa membawa pulang kue manis mungil nan hangat itu di dalam keranjang belanja.

Ini dia baju tidur aneka motif batik
Hanya beberapa meter dari penjual pukis, ke arah Barat, saya bisa mendapatkan brokoli segar. Harga yang ada di pasar tradisional ini otomatis jauh lebih murah dibanding swalayan atau pasar modern. Kurang dari delapan ribu sudah komplit dengan dua buah wortel, seledri, dan daun bawang. Kalau dimasak cukup lah untuk dua kali makan keluarga kecil kami. 

Untuk menambahkan warna lain pada sop, biasanya saya tambahkan bakso, jagung manis, dan makaroni. Semuanya dengan ukuran yang sedikit. Bakso cukup 5 butir sedang. Makaroni beli seribu juga dikasih, nodong kali yang enggak dikasih.. Hehe.  Jagung manisnya beli dua, tiga ribu. Satunya jatah untuk burung kenari suami.
Ini dia bakal sopnya
Saya bergegas mencari penjual Tiwul. Sebelum sampai ke sana, hati saya tersenyum saat melewati ramenya mainan anak yang menggantung. Hampir bisa dipastikan semua terbuat dari bahan plastik. Dan yang paling sering saya ingat, tulisan pada bungkusnya selalu berbunyi Made In China. 

Untung Alhamdulillah dua anak saya enggak ikut. Kalau berhenti di dekat penjual mainan tersebut, hanya dua mainan yang biasa diminta. Pistol-pistolan dan mobil-mobilan. Kalau ditegur, jawabnya, "Yang ini kan modelnya beda, Ummi." 

Tuh, kan. Mainannya plastik semua
 
Bersambung ...

Tulisan sengaja saya buat menjadi beberapa bagian. Dua hari terakhir, anak saya demam, saya pas banget ngedit tulisan lain. Posting blog mulai diuji kerutinannya. Mudah-mudahan postingan ini bisa dilanjut sesuai rencana. Aamiin.

Comments

  1. Hayuk semangat odop nya. Semoga dede cepat sembuh yah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semangaaat!

      Syukran motivasinya, Mbak ...

      Delete
  2. Lho...mbak tinggal dimana? Ini deket tempat tinggal saya. Asli saya deket sini....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Serius, Mbak Sulis? Saya tinggal di Panti Asuhan khusus putri ... perempatan kidsfun ke utara.

      Delete
  3. Wahhhh baca ini jadi keingat pas thn september 2014 lalu KKN di desa Blimbing Ponjong Wonosari...

    Beli sayur di pasarrrrrr ponjong....
    Ah Gunung Kidulll sejuta sensasi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya malah belum pernah ke sana. Tapi kalau mau ke sana ya lewat pasar ini, Mbak Arinta Setia Sari.

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ... sangat senang bila Anda meninggalkan komentar, atau sharing di sini. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Salam santun sepenuh cinta
Kayla Mubara