Akibat Tidak Menjaga Mulut

KoleksiWallpaper
 Seseorang hidup berdampingan dengan ujian. Si belum punya diuji dengan apa yang belum dimiliki, bagaimana sikap dan usahanya selama ini. Yang berpunya, diberi coba dengan apa yang telah dimilikinya. Antara hidup dan ujian, jalan berdampingan.



Ada kisah tentang seorang wanita (sebut saja namanya Rika) sukses menapaki usaha. Dia memiliki beberapa orang karyawan yang membantu. Di Hari Sabtu tertentu, dia membagikan gaji karyawan. Ada yang berbeda dengan caranya memanggil para karyawan, "Hei! Tuyul! Sini! Mau pada terima gaji apa enggak nih? Jalan lelet amat!"

Beberapa kali dia membuka buku catatan, kemudian megambil amplop untuk para karyawan. Tidak ada jawaban yang terdengar, mendekat dan diam menjadi cara paling aman untuk tetap bertahan. Entah apa kalimat yang sebenarnya lama tersimpan di hati para karyawan.

Hari Sabtu lagi nih. Siap-siap berbagi dengan para tuyul. Update status dulu sebelumnya.

Itulah yang dilakukan Rika setiap kali akan membagi gaji.

Hingga sebuah rezeki kembali ditambahkan kepadanya. Anak yang sudah dinanti-nantikan akan segera ada. Dia hamil. Kian hari, Rika kian sering memaki karyawannya. Seiring dengan sehatnya usia kandungan, dia menggenggam berlipat-lipat bahagia.

"Tuyu... ul!"

Satu teriakan membuat para karyawan memandang ke arahnya. Seorang teman pun datang menenangkan.

"Rik, masa kamu panggil mereka tuyul sih? Hati-hati lho kamu sedang hamil. Enggak baik teriak-teriak dan manggil orang dengan nama yang belum tentu disukai," nasihatnya dengan suara pelan.

"Apa urusanmu! Suka-suka aku dong mau panggil mereka apa!" sahut Rika berapi-api.

Temannya menggeleng dan mengucapkan istighfar.

Status Rika di media sosial juga masih berlabel T-u-y-u-l untuk menyebut para karyawan. Nasihat baik dia tampik. Ah, Rika. Mungkin hanya kaulah yang benar dan kaya di hatimu, hingga semua salah dan tampak lebih rendah.

Bulan berlalu, jam meninggalkan jejak hari. Memasuki bulan kesembilan, kandungan Rika berhenti bergerak.

"Ssst! Bu Rika kok napasnya bau bangkai, ya?"

Seorang karyawan bicara pada temannya dengan merendahkan volume suara. Melihat gelagat yang mencurigakan, Rika menjadi geram.

"Ngapain kamu? Tuyul! Ayo kerja-kerja!"

Keresahan akan janin yang tak bergerak dilampiaskan pada para karyawan. Hingga takdir lain pun menggiring cerita.

"Anak ibu sudah membusuk di dalam kandungan. Kami akan melakukan operasi secar untuk mengeluarkannya."

Kilat menyambut halilintar kejut. Susah payah dia mengandung. Calon bayi yang digadang-gadang, hari ini begitu saja semua lenyap. Hilang.

"Kenapa, Dokter?"

"Tali pusatnya telah putus. Dia tidak bisa mendapatkan makanan karena tali pusat itulah jalannya."

Sesal tak dapat terkatakan. Teguran atau kah ujian? Tidak ada yang tahu.

Apakah selama ini Rika yakin tidak ada gemuruh do'a dari hati-hati yang teraniaya akibat ulahnya? Para karyawan, atau teman yang telah berbaik hati mengingatkan? Semua kembali pada-Nya.

Kisah ini mengingatkan saya akan dua hal :

Pertama :

"Selamatnya manusia adalah dalam bagaimana dia menjaga lisan."

dan ...

Kedua :

"Allah tidak menyukai perbuatan buruk yang diucapkan secara terus terang, kecuali oleh orang yang dizalimi. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha mengetahui." (Q.S : An-Nisa : 148)

Ya Allah ...
Jadikanlah kami orang-orang yang bisa menjaga hati saudara dengan cara menjaga lisan ini
Ampunilah segala khilaf yang telah lalu
Jaga kami dari apa yang belum terjadi
Penyebab jauhnya ridha-Mu pada kami

Aamiin 

Diangkat dari kisah nyata yang diceritakan seorang teman

Comments

  1. Inspiring, Mbak. Memang lisan itu seperti pedang. Jatuhnya kaki bisa disembuhkan, tapi jatuhnya lisan itu bisa menimbulkan banyak maasalah. seperti yang dialami Rika yang ditegur langsung

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Saya langsung minta izin mendaur ulang cerita waktu baca tulisan teman. Karena ada pelajaran yang dalam di sini.

      Delete
  2. Astaghfirullah... Semoga kita semua menjadi hamba Allah yang pandai menjaga lisan ya, Mbak...

    ReplyDelete
  3. astagfirullah. akibat tak menjaga lisan dan kesombongan hati.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan kita bisa menjadi hamba yang rendah hati dan selalu menjaga lisan.

      Delete
  4. Bagi perempuan lisan bisa menjadi tiket ke neraka, sekali mengeluarkan kata gak ada kata cancel atau edit ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Perempuan terkenal suka ngerumpi, ya? :)

      Delete
  5. Subhanallah...memang sulit menjaga lisan ya mbak...
    Atau lebih baik diam saja ya... :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Saya juga masih belajar. Kisah ini begitu membekas dalam ingatan, hingga saya putuskan menuliskannya.

      Delete
  6. Saya mau mengaminkan do'anya...
    Amin amin amin Ya Allah...

    ReplyDelete
  7. uang bisa mengubah perangai seseorang?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mudah-mudahan kita dijaga dari yang demikian. Aamiin.

      Delete
  8. Pernah mendengar cerita serupa. Tapi tentang anak yang susah melahirkan karena ia dan suami pernah menyakiti orang tua.

    ReplyDelete
  9. Serupa tapi tak sama, ya, Mbak Heni Puspita. :)

    ReplyDelete
  10. Astaghfirullah....pelajaran yang amat berharga ya mbak untuk menjaga lisan kita..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Na'udzubillah. Iya, Mbak Ika Puspitasari

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ... sangat senang bila Anda meninggalkan komentar, atau sharing di sini. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Salam santun sepenuh cinta
Kayla Mubara