Kakang dan Cuplikan Sejarahnya

Sumber gambar, klik

"Sun Yi, aku masih saudaramu," kata seseorang sambil meraih pundak gadis tanpa poni.

"Saudara?"

Sun Yi berhenti mengayunkan kaki. Badannya kurus, bibirnya kering terkelupas. Dua sudutnya bahkan sedikit berdarah. Dia masih duduk di atas tempat tidur yang sama, sejak 24 hari lalu. 

"Ke mana saudara, saat saudaranya sakit?" tanyanya tanpa menoleh.

"Bahkan, aku juga tahu, semua muslim adalah saudara, tapi, mereka tidak ada saat aku terlunta. Ke mana?"

Mamak, Bapak, dan orang yang memegang pundak Sun Yi terdiam. Kesadaran Sun Yi sudah kembali. Setidaknya, itu tersimpulkan dari caranya bicara, masih belum menatap mata lawan bicara. Pertanyaan itu tidak salah, selama ini, Sun Yi hanya mendapat perhatian dari keluarga. Saudara, tetangga yang rumahnya dekat, tiada satu pun peduli. Mereka sibuk mengutuk. Kutukan yang sebenarnya wujud dari gelapnya hati. 

Keluarga Sun Yi dikucilkan. Karena tidak satu pikiran, dengan semua, dalam hal agama. Dalam organisasi. Pengucilan yang dilakukan orang-orang desa, adalah pengasingan hati, dan sangat melukai. Jadi, biar pun mereka bersama, dalam satu ruangan, hati mereka sangat jauh, sejauh cinta, dan benci. Ah, ya. Padahal dua rasa itu pun bisa bertukar, atau diselaraskan, sehingga bisa menormal. Tapi, mereka belum sadar, atau memang memilih jalan untuk tidak sadar. Mereka dusta di bibir dengan manisnya kata. 

"Dulu, menurut Bapak, aku memang dibuang, Sun Yi."

Kali ini, Sun Yi menoleh. Melihat dengan mata sedikit lebih besar dari ukurannya.

"Iya. Aku diberikan pada orang yang merantau ke luar Jawa. Kami jadi transmigran, di sana. Aku baru mengenal Bapak, beberapa tahun setelah lulus 'Aliyah. Aku juga baru tahu silsilah keluarga kita. Kalau tidak salah, kau memanggilku Kakang. Aku anak Mbokdhemu."

Sun Yi menghela napas panjang, seolah dia sengaja menghitung saat menarik, dan menghembuskannya. Dia merasa ada yang bernasib lebih buruk darinya. Entah kenapa, Sun Yi merasa menemukan sejarah baru, oh, bukan, bukan baru, tepatnya baru diketahuinya.

Orang-orang kerap kali membuat kesimpulan, sebelum mengetahui pokok persoalan. Mereka sengaja, atau tidak tahu akan sejarah, namun berlaku sebagai orang yang paling tahu. Serupa dirinya tadi, sangat benci sosok yang mengaku saudara, tapi belum pernah ditemui. Seandainya 'Kakang' tidak bercerita, tentu saja dia tak akan pernah tahu. Semisal Sun Yi juga tidak mau tahu, maka sejarah akan terkubur, keduanya tidak bisa saling sapa, karena hati masing-masing tertutup. 

"Kita bukan mahrom, kenapa tanganmu masih di pundakku, Kakang?"

Laki-laki berkacamata itu segera menarik tangan kanannya. Dia juga serta merta turun dari tempat tidur Sun Yi. Mungkin, karena hiba, sedih, dan mencoba menghibur, Kakang meletakkan tangannya di pundak Sun Yi. 

"Maaf," jawabnya singkat.

"Mbokdhe melupakanmu, atau tidak mau tahu tentang kamu, Kakang?" tanya Sun Yi datar.

"Aku tidak tahu. Tapi, sebagai anak, aku akan tetap berbakti pada mereka."

Sun Yi tidak bertanya lagi. Dia merasa tanya-jawab hanya akan membuatnya banyak bicara. Itu menguras energi, padahal, badannya terasa remuk. Persendiannya sakit-sakit. Dan lagi, dia sudah sangat banyak bertanya. Rasa penasarannya bisa ditampung, dan ditanyakan lagi, nanti pada Bapak, atau Mamak. 

Ruangan masih sepi. Aroma karbol menyengat. Beberapa orang yang melewati lorong rumah sakit menutup hidung. Daun-daun bambu meliuk, seolah ingin mengecup atap rumah sakit. Angin membuat batang-batangnya menyanyikan lagu pilu. Nyanyian yang akrab di telinga Sun Yi, sama seperti yang terdengar dari kamar, di rumahnya, di pinggir kali.

Terdengar sejumlah langkah kaki  mendekat pintu kamar. Telinga Sun Yi sudah mengenali langkah itu, sejak 24 hari lalu. Langkah kaki seorang dokter berjenggot yang kulitnya cokelat, hidungnya seperti orang Arab, dan wajahnya seperti orang India. Di mata Sun Yi, tidak terlalu berbeda wajah orang Arab, atau orang India. Mereka mirip.

"Assalamualaikum, Mbak. Sudah siap pulang, hari ini?" 

Sun Yi mengangguk. Dia merekahkan senyum, ekspresi positif pertama setelah kesadarannya hilang. Pergi bersama kepanikan-kepanikan keluarga. Beserta doa-doa baik yang mereka panjatkan. Kesadarannya kini, sebelumnya banyak diragukan. Dia bahkan sudah divonis akan meninggalkan dunia. Vonis yang tidak mampu melawan takdir yang sebaliknya.

"Siap, Dokter. Apakah saya masih bisa konsultasi, setelah ini?"

"Oh. Tentu. Tentu saja kau bisa menghubungiku kapan saja. Mau dengan saya, Mbak ini, itu, atau yang lain," kata dokter tersebut sambil menyebutkan nama-nama perawat yang bersamanya. 

"Kau tidak harus konsultasi. Kau bisa cerita apa saja, bahkan kau bisa curhat pada kami. Sama seperti kemarin-kemarin."

Sun Yi tidak ingat akan 'kemarin'. Memorinya menangkap langkah, rupa, suara dokter itu sejak di sini, tapi tidak dengan apa yang sudah dilakukannya. 

"Selamat, Sun Yi. Akhirnya kamu sudah bisa pulang," kata Kakang.

Sun Yi kembali tersenyum. Senyum kedua, dalam waktu kurang dari 15 menit. Semoga saja, senyum-senyum cerianya akan segera kembali. Dia adalah pabrik senyum yang baru saja bangkrut. Senyum-senyum tergadai, terburai entah ke mana. Kali ini, dia akan mengais satu demi satu senyuman itu. Meski belum menjadi pabrik kembali, setidaknya dia mulai bangkit. 

Comments

  1. keren euy dijadikan fiksi ya, Mbak. Kadang memang orang tak mau tahu tentang sejahnya orang, yang tahu, kemarin ya kemarin, dulu ya dululah

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, Mbak Astin. Sambil belajar. Betul sekali. Bisa jadi, kita yang egosi, jadi tidak mau mengenal, atau tahu lebih jauh.

      Delete
  2. ga ada niat buat dikirim ke penerbitkah, mba Kayla?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Semoga selesai, Mbak. Hehe. Dan bisa dikirim ke penerbit.

      Delete
  3. Wah seru nih, ngomongin sejarah sambil nge-fiksi hehehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi. Sambil belajar narasi, Mbak Novia ...

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ... sangat senang bila Anda meninggalkan komentar, atau sharing di sini. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Salam santun sepenuh cinta
Kayla Mubara