Cibiran Pelecut Harapan (Cerita Aku dan Buku)


 
Di antara buku-buku kami

 
 “Aku tidak percaya dia sudah membaca buku ini. 500 halaman lebih? Tak mungkin!”

Aku yakin telinga ini masih waras. Suara pelan yang diucapkan gadis itu terdengar keras. Sangat menyentak hati. Dia  (selanjutnya akan tetap kutulis sebagai Dia, demi privasi) mengatakan bahwa tak mungkin seorang ‘aku’ membaca buku dengan ketebalan lebih dari 500 halaman. Demi menguatkan yakin akan kewarasan telinga, kudekatkan mata pada tepian jendela. Dari sana, aku bisa melihat melalui celah gorden yang sedikit terbuka, bahwa Dia sedang mengolok. Menertawakanku.

Aku memang biasa di lapangan. Saat itu, gila olahraga masih menyambangi. Setiap hari, aku 30 menit  joging, dan dua jam berlatih beladiri. Olahraga menjadi pelarian pertama, dan buku menjadi kekasih utama saat masalah mendera. Kedua hal itu  kulakukan setiap hari, tanpa butuh permisi kepada siapa pun. Apa setiap aku terjaga harus membangunkan sesorang? Apa setiap gelisah harus kuutarakan pada seseorang? Apa aku juga harus melakukan wajib lapor 24 jam untuk mempresensi berapa lama membaca? Uh! Sungguh ribet bila demikian ketentuannya.
“Kak, memangnya buku ini sudah dibaca. Kebetulan akan kujadikan salah satu buku referensi skripsi. Ini buku keren.”
Pertanyaan adik serupa replay dari apa yang diucapkan Dia tempo hari. Ya! Sebab pada adikku lah Dia mencibir. Kutahan diri dengan mengupayakan senyum. Gejolak darah muda sudah naik beberapa celcius. Mungkin. Badan terasa lebih hangat dari sebelum mendapat pertanyaan. Demi menjaga keseimbangan emosi, aku berbaring sambil mengatur napas.
“Alhamdulillah sudah.”
Aku berharap tidak akan ada pertanyaan atau komentar lain setelah dua kata yang kujadikan sebagai jawab. Benar, adikku tak lagi bicara. Selain pendiam, dia memang memilih jalur aman bila berkomunikasi denganku.
Ruang kamar kos terasa melebar, setiap satu buku motivasi singgah di telapak tangan. Katakan saja untuk Buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah. Buku Ustadz Fauzil ‘Adhim ini menyihirku berhari-hari. Sedemikian sederhananya bahasa yang dituturkan. Sayang, mendadak rasa longgar di kamar sempit, mendadak sempit betulan. Serentetan huruf menyemprot sebagai cibiran, “Gadis tomboi kok sudah baca tentang pernikahan. Jauh deh dari kenyataan.”
Duh, Tuhan. Jadi kalau tomboi itu harus jauh dari rasa sayang? Jadi kalau memiliki banyak teman laki-laki dan tak satu pun yang berstatus pacar, juga jauh dari rasa suka? Jadi kalau semua anggapan awal itu mendapat pembenaran, aku tak pantas banget membaca buku motivasi untuk menikah? Memang, usiaku masih 20 tahun kala itu. Sejujurnya, menikah atau jatuh cinta belum menjadi prioritas utama. Namun, bukan berarti haram juga membaca buku-buku yang menggiring ke sana, kan? Aku yakin, setiap huruf yang singgah sebagai bacaan akan menambah wawasan. Mengurangi kebodohan.
Hari terus menggulung waktu.
Aku kian menggilai buku. 
Cibiran demi cibiran silih berganti meneror hidup. Aku mulai terbiasa. Jika sebelumnya membaca buku serius, motivasi, dan agama, aku mengambil kesempatan untuk singgah di taman bacaan. Di sana koleksi terbanyak adalah komik. Hingga suatu waktu aku jatuh cinta dengan Pansy dan Wanihiko Fudoh. Dua tokoh berbeda dari komik yang berbeda. Bila Pansy membuai dengan cerita romantis yang syahdu dan haru. Sosok Wanihiko Fudoh begitu tampan sebagai tokoh komik di mataku. Tuh, kan. Berarti aku masih normal?
Masalah dalam hidup katanya selalu berdampingan. Sebab, berani hidup itu sudah masalah. Lapar itu kadang juga masalah, solusinya harus makan. Bila sudah ada makanan, gampang tinggal ‘leb’ langsung kenyang. Tidak dengan sebagian orang, mereka butuh mencuci piring dulu, memeras keringat, atau melakukan pekerjaan lain demi sepiring nasi.
Aku juga hidup berkarib dengan masalah. Berpindah tempat dari kota menuju daerah kelahiran, setelah lima tahun di kota menjadi tantangan tersendiri. Sakit parah menyebabkan aku divonis akan mati. Semua saudara sudah berkumpul karena satu orang terkasihnya akan pergi. Kejam. Dan itu adalah masalah, bukan?
Saat sehat menyapa, kukumpulkan keberanian melamar pekerjaan. Satu perpustakaan sekolah berbaik hati membuka pintu menyambutku. Di sana, aku bak bertemu jodoh setelah sujud satu abad di atas sajadah. Indah. Buku-buku begitu menawan melambaikan harapan, “Ayo baca aku sepuas mata kuat menatap!” Begitu kira-kira mereka berteriak. Pikiran ini menari, hati melantunkan puja-puji, telinga merasa ada musik Kitaro yang menemani. Nikmat mana yang akan kukhianati?
Petugas Perpustakaan Sekolah. (ijinkan aku menyingkatnya menjadi PPS)
Satu pekerjaan yang paling Awesome di telingaku. Bila semua urusan sudah selesai, aku bebas membaca, dan menulis dari apa yang sudah kubaca. Aku bebas lembur demi bisa membaca buku-buku yang sudah kutandai. Hasilnya, aku kembali menulis, satu kebiasaan yang sudah kulakukan sejak masih MTs (sederajat SMP). Dari masa itu aku menjadi penulis majalah dinding, dan majalah sekolah. Belum terpikir untuk menekuni sebagai profesi.
Sejak lulus sekolah, aku lebih banyak menulis buku harian, hingga pada masa menjadi PPS, tunas-tunas yang karam setelah kemarau kembali disapa rerintik gerimis.
Segar. Penuh harapan. Terngiang dalam ingatan, ucapan Dia yang mencibir. Apa kabarmu hari ini? Aku ingin sekali menggandeng tanganmu ke lembah dan bukit buku. Di sana, di bawah langit buku-buku, aku ingin berbagi apa yang sudah kubaca, dan akan kudengarkan semua pengalaman hidupmu. Aku sadar, cibiran yang Dia ucapkan adalah bukti kasih. Cinta yang terus mengelindan harapan hingga kini.
            Detak jam dinding meninggalkan jejak hari.
            Buku-buku yang ada di perpustakaan sudah tandas. Hingga buku-buku kurikulum pendidikan, yang tadinya tak kumengerti juntrungnya, perlahan, aku paham bahwa sistem pendidikan di Indonesia ini masih labil. Mirip dengan ABG yang mencari kenyamanan hidup. Sering berganti kurikulum.
Orang-orang jadi bertanya tentang sesuatu yang bukan bidangku? Selama aku bisa menjawab, atau menunjukkan buku mana yang dapat membantu, aku senang saja. Tapi, kalau enggak tahu jawabnya, aku mencatat di buku kecil. Kapan-kapan, aku akan ke perpustakaan daerah Kabupaten Cilacap.
Demi membaca buku-buku yang tak ada di perpustakaan sekolah, aku rela menempuh perjalanan Kawunganten-Cilacap. Ke perpustakaan daerah. Dari rumah, aku naik ojek ke kecamatan, jika sedang beruntung, aku langsung mendapatkan mini bus ke terminal Cilacap. Kalau beruntung lagi, saya pun langsung mendapatkan ‘kol ijo’  angkutan kota yang siap berangkat. Nantinya angkutan kota itu akan melewati perpustakaan daerah.
Sebaliknya bila sedang kurang beruntung, aku akan menunggu hingga setengah jam di terminal kecamatan, dan duduk kepanasan di dalam angkutan kota, atau berdesakan dengan orang banyak. Ada kakek penjual cobek, ibu-ibu dengan dandanan menor, orang berseragam dinas pendidikan, dan lainnya.
Sampai di perpustakaan daerah aku langsung mendaftarkan diri sebagai anggota. Kala itu (lupa tepat waktunya), perpustakaan belum seperti saat ini. Kartu anggota serupa KTP lama, dan kartu anggota sekarang tak ubahnya dengan e-KTP. Proses pembuatannya pun sangat mirip, yang membuat beda hanya kartu anggota perpustakaan tentu tidak perlu pengantar dari RT, RW, kantor kelurahan, apalagi kepolisian.
Aku langsung menghambur ke rak buku-buku motivasi, lalu psikologi. Ada apa ini? Kok buku macam itu terus yang dicari? Ya. Aku menggilai buku motivasi, dan psikologi baik yang ditulis orang umum (non muslim) atau oleh orang Islam. Buku Julian Short yang berjudul An Intelligent Life menjadi pacar dalam kamar. Tentu setelah aku memastikan pinjaman dua buku selama sepekan di meja peminjaman.
Catatan setelah membaca, enam tahun lalu

Aku rapuh.
Begitu rasa yang mendera saat satu per satu para gadis bersanding di pelaminan. Aku kuat, karena ada buku-buku yang menemani sebagai motivasi. Ah, jangan kau tanyakan tentang Al-Qur’an di sini. Sebab yang sedang dibahas memang Aku dan Buku, bukan dengan kitab suci. Jadi, mohon berbesar hati bila tak kau dapati dari tadi tentang interaksiku dengan Al-Qur’an. Sepakat?
Bersamaan dengan menjadi atlet olah raga yang kutekuni, buku-buku motivasi sangat membantu. Aku menjadi orang ndeso yang bila menang pertandingan (walau masih lokal) ada penghargaan dari kabupaten, tapi kecamatan tidak tahu. Sama sekali. Di saat teman-teman dari Majenang bercerita mendapat kehormatan saat upacara bendera, aku masih berjuang mengenalkan bela diri yang dianggap agak tabu. Sebab, mengeluh hanya melemahkan. Dan buku-buku bisa menjadi teman sepanjang jalan. 
Catatan  ketrika mencari makna CANTIK

Lima tahun berlalu. (Demi keamanan mata, kusingkat cerita).
Seseorang datang dalam hidup, mengawali sapa dengan buku. Wo Aini Allah, novel Vanny Crisma W yang menyentuh kelembutan hati. Ah! Lama-lama aku berharap, si laki-laki pemberi sebenarnya akan mengatakan Wo Ai ni saja. Namun, untuk menyamarkan, dia memberi buku dengan penambahan satu kata dalam judulnya.
Kelindan rasa demikian kuat.
Aku mulai tidak kuat.
Rasa datang demikian lesat.
Hati, pikiran, dan mulut meramu mufakat
Tuhan ...
Jadikan kami lebih dekat.
Angin mengabarkan sepoi pada jiwa yang merindu dicinta. Laki-laki itu kembali membawa buku dengan judul ‘Kujemput Jodohku’ Takbir begitu nyaring di hati. Sebab bila kuteriakkan secara nyata, aku khawatir orang-orang mengira sedang ‘gila’ ingin naik haji. Dan tentu saja kau paham maksud dari judul buku itu, kan? Ya! Dia meminangku.
Agar Bidadari Cemburu Padamu yang ditulis Fadlan Al Ikhwani menyempurnakan hadiah buku-buku. Ah, ya. Aku lupa sejak awal tidak memberitahu, bahwa aku bukanlah orang yang loyal membeli buku. Aku berkarib dengan gudangnya; perpustakaan. Eh, kok gudang? Ya begitu lah anggapan orang-orang yang mencibir bahwa aku pengunjung gudang buku. Sebenarnya lebih asyik terdengar bila mengatakan gudang ilmu. Sayang, memaksa menjadi kejahatan hati bila dituruti.
Dan kau tahu?
Pernikahan menghadiahkanku Surga buku. Lihatlah koleksi suami. Dari cerita yang merenda malam-malam kami, dia hobi membeli ketika pameran. Memborong tanpa perhitungan. Alhamdulillah. Nikmat mana yang akan kukhianati?
Aku butuh membaca buku. Aku bisa mendapatkan tanpa membeli. Aku bisa menulis dari buku-buku yang memotivasi. Sekarang, banyak kuis dan lomba dengan hadiah buku. Betapa mendukung kebutuhan ini. Kelemahan paling perlu diperbaiki adalah aku tega tak mendengar bunyi apa pun ketika membaca. Termasuk anak yang berteriak minta dibuatkan susu. Alih-alih bangkit, aku kadang terus melajukan mata di deretan aksara. 
Hadiah yang kuhadiahkan

Buku Hadiah dari Lomba Resensi

Hadiah manis dari Exchange

Hadiah dari Sahabat Membaca

“Yang ... tolong dong bikinin anak-anak susu.”
Maaf, aku tak bermaksud membuat kau pingsan. Dengan cerita ini.
Demi menjaga kestabilan diri yang ‘menuli’ bila membaca,  aku memilih buku ringan yang tidak perlu mengerutkan dahi saat membaca. Terutama saat anak-anak, dan suami terjaga.
Sekian tahun berjuang agar bisa membaca buku-buku, aku mulai menulis. Meski hasil belum maksimal, aku tetap optimis. Aku harus terus terus menulis, sebagai rasa syukur karena masih bisa membaca. Beberapa buku pun mulai terbit, masih berupa buku antologi, tak apa. Toh hidup perlu proses (tanpa makansud beralasan).
Dan ...
Aku terus mengingat Dia. Cibirannya sungguh berharga. Tiada ternilai dengan harta. Terima kasih. Kelak, kita akan bertemu di tangga sukses yang saling menyemangati. Aamiin.

Pondok Cahaya-Yk, 10.03.2016

Tuisan ini diikutkan Lomba Menulis "Aku dan Buku" yang diadakan oleh Kaurama Buana Antara

Comments

  1. Sama Mbak, aku pun selalu dicibir gara-gara terlalu suka membaca dan menghabiskan uang jajan buat buku. Katanya apa gunanya, lebih baik beli yang lain. Padahal bagiku buku lebih memiliki banyak manfaat. :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Tidak apa-apa. Keteguhan memang perlu diuji. Hehe.

      Delete
  2. Kalo sy Alhamdulillah ga sampai ada yg mencibir Mbak. Cuma kalo jalan ke mal sama temen dan kita sepakat buat mampir toko buku (ini niat sy) habis hunting baju buat dia, dia suka ga betah hahaha! Soalnya kalo udah masuk toko buku, pengennya sy lama gt. Agak susah kalo jalan ke toko buku sama org yg ga suka sama buku. Kurang puas gt :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya. Kalau ke tobuk mending sendiri atau antar jemput. Suka tenggelam asyik membaca bagian belakang buku, atau baca sekalian jika ada yang sudah terbuka.

      Delete
  3. saya punya teman membaca yang hebat. almarhum bapak, ibu dan teman waktu SD dulu. tiap ada pameran buku, tiap bulan pasti ada deh pameran buku di jogja, saya berusaha ke sana. entah di gedung wanita,di jec, pokoke yang bisa dijangkau.

    berdua sama ibu atau teman. lebih banyak ga belinya, mengkhayal doang tapi senang.

    kalau lagi ga ada kerjaan dolan ke gramedia pusat. nongkrongin pojok bahasa asing, ngiler lihat kamus yang mahal, buku agama, trus berencana kalo nanti gajian mau beli. setelah gajian ga jadi beli karena ngepas.

    ada satu buku yang sampe sekarang pingin beli ga kesampean mbak. kalo lihat itu di pameran cuma nelan ludah. dielus-elus bukunya. haha...

    sekarang di madiun ga ada pameran buku. ya kalo pas pulkam nanti dan ada pameran buku, semoga bisa disempatkan Alloh ke sana.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku biasanya puasa dulu, Mbak Damarojat. Misal sehari puasa kuhargai 10 ribu. Uang itu aku simpan, kalau sudah terkumpul bisa beli buku. Hehe

      Delete
  4. waahhhh suka liaatt lemari bukunyaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mau roboh, beban berlebih dan kurang rapih.

      Delete
  5. Waaah 😃
    Kalau aku, dibilang nenekku, kalau "Bondo donyomu yo buku iki yo." ucapnya sambil manggut-manggut di depan rak buku 😃

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu juga celutuk suami. Kadang dia bilang, "Raknya kurang terus."

      Delete
  6. Semuanya selalu ada hikmah. ^^

    ReplyDelete
  7. tampilan blog nya tambah keren euy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masih ala(boa) kadarnya. Hihi. Perlu belajar banyak.

      Delete
  8. uhuuy..dulu nikah pas umur berapa?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aw. Pertanyaan sensitif. Hihi. Pas 29, Mbak Avizena.

      Delete
  9. Hehehe, saya suka baca juga tapi nggak sebanyak mba bukunya. Malah banyak yang belum dibaca hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itu buku kolaborasi dengan suami. Setelah akad, bukunya pun dikawinkan. Oops.

      Delete
    2. Merdeka! Mudah-mudahan bisa stabil.

      Delete
  10. kalau udah asyik baca buku yang mencibir abaikan saja mbak :D

    ReplyDelete
  11. Wow banyak sekali koleksi bukunya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jarang beli buku, tapi bisa nambah. Alhamdulillah.

      Delete
  12. Pinjam bukunya atu, Mbak. :D

    Banyak bener, bikin ngiler.

    Tulisannya tambah bagus aja.

    ReplyDelete

Post a Comment

Terima kasih sudah berkunjung ... sangat senang bila Anda meninggalkan komentar, atau sharing di sini. Mohon tidak meninggalkan link hidup.

Salam santun sepenuh cinta
Kayla Mubara