![]() |
gambar diambil dari pixabay |
Kali ini sudah masuk hari ke-5 puasa. Saya sebenarnya sedang banyak target deadline, tapi malah menambah waktu nulis. Bukan karena luang banget, tapi saya memang sedang mengacaukan diri, agar biasa dengan beban banyak. Soal bahasa dan logika, bisa saya edit di tulisan aslinya. Di blog ini memang untuk target kuantitas. Halal alesan. Bilang aja males edit. Eaaa.
Ini satu cerita yang menyapa hati saya. Kadang, kalau bekerja tanpa dapat bayaran, kok gimana gitu. Yuk simak bersama!
“Gimana, Bu? Tambah
banyak yang ngaji, sekarang?”
Saya pernah tanya
begitu pada seorang ibu. Beliau adalah wali siswa di TK swasta, di daerah
Berbah. Kebetulan, putra beliau dan anak saya satu sekolah. Ketika bertemu,
kami sering saling bercerita, paling seru yang cerita tentang anak-anak,
kemauan belajar, dan mengaji mereka.
Beliau ini menerima les
Iqra, dan membaca Al-Quran. Saat ini, anak yang belajar pada beliau ada 25-an.
Tapi, tunggu sebentar. Mohon untuk tidak buru-buru beranggapan bahwa
pendapatannya dari aktivitas itu sekian digit. Atau istilah lain yang merujuk
ke materi. Kita simak dulu celotehan saya. Oke?
“Anak-anak itu
sebenarnya pintar. Lah wong mereka dikasihtahu sekali dua kali, langsung hapal
kok. Orangtua saja yang kadang enggak sabar. Maunya anak bisa, tapi enggak mau
ngajarin. Padahal bisa. Hanya sedikit kurang sabar, mungkin.”
Kalimat ini lah yang
menjadikan saya, terus berusaha menyemangati dua anak saya untuk mengulang
hapalan surat pendek. Mereka bisa, hanya kita memang yang wajib memperbarui
cara agar anak-anak nyaman. Kalau sudah nyaman, mau diarahkan ke mana juga
bisa. In sya Allah.
Kalimat itu juga yang
diucapkan Bu Siti, ketika anak-anak yang mengaji padanya terus berkembang.
Sekali dua kali, kami
bercerita juga tentang honor. Biasanya hal ini memang bukan hal yang penting
untuk dibicarakan, terutama dengan orang-orang yang belum saling kenal. Honor
adalah area pribadi yang tidak berhak kita utak-atik. Kecuali dia calon imam
kita tentuanya. Eaaa. Yang jomblo baper dah. Piss!
“Orang macam-macam.
Saya tidak pasang tarif. Sesuai kemampuan mereka saja.”
Dari sini sudah
terlihat kan, kalau Bu Siti ini tidak lah ngoyo. Bagi beliau, sama banget
dengan teman saya yang penulis, yang naskahnya dibeli 14 juta, “Saya melihat
anak-anak mau ngaji saja sudah Alhamdulillah.”
Coba deh lihat lagi.
Berapa biasa kursus bahasa asing? Les renang? Les piano? Dan Lesehan? Yang
harus dikeluarkan para orangtua untuk mendukung aktivitas putra-putrinya? Bisa
jadi 30, 50 ribu atau lebih untuk satu pertemuan. Mereka tidak masalah, tapi
ketika untuk guru ngaji? ‘eman-eman’. Sayang. Biasa juga gratis. Ini lah negara
kita. Negara mayoritas muslim, tapi belum mengakar bahwa Al-Quran ini jauh
lebih berharga di mata-Nya, dari semua yang di les-leskan tadi. Dan kesadaran
ini bukan hal yang bisa dipaksakan.
‘Ada yang ngasih 50
ribu per bulan. Ada yang 100. Dan ada yang 80 ribu, selama empat bulan.”
Tuh, kan ... bagian
terakhir itu kalau dibagi empat, ketemu 20 ribu. Banyak mana dengan uang jajan
anak-anak Anda?
Tapi, jumlah itu sekali
lagi tidak menyurutkan beliau untuk terus mengajarkan ilmunya. Bahkan, sang
suami kadang kerap berujar, “Wong dapet sedikit kok masih lanjut.” Di sini kita
perlu menjeda. Ikhlas yang dijalani Bu Siti ini patut mendapat apresiasi. Tentu
saja apresiasi yang paling agung semoga terlimpah dari Yang Maha Kuasa.
Dari perjalanan
mengajar ngaji itu, Bu Siti mengaku banyak mendapat limpahan rezeki. Memang
benar, “Rezeki itu bukan hanya uang. Kebaikan-kebaikan Allah SWT tak terbilang.
Arahnya selaluuu ada saja.”
Kabar baik mengikuti
beliau. Putri sulungnya diterima di UGM, padahal katanya sudah pesimis. Banyak
saingan. Dan cerita lain. Matur nuwun, Bu Siti. Saya siap mendengar cerita
lain. Cerita seorang ibu yang terlebih dahulu melewati pengalaman demi pengalaman,
yang belum saya alami. []
masyaallah, semoga bu Siti selalu dilimpahi barokah.
ReplyDeletesaya juga punya teman guru ngaji mbak, yang ngajari ngaji keliling dan tidak pernah mematok tarif. ketika saya tanya mengapa dia tetap melakukan itu, jawabnya "saya tetap mengajar karena saya butuh mengajar," baginya mengajar adalah sebuah kebutuhan batin, itu pula yang memunculkan ikhlas. Barakallah untuk semua penjaga ayat-ayat Allah.
Amin. Iya, kalau begini, saya yang tadinya nggrundel kurang ini dan itu, merasa balik melihat hati, "Kurang apa lagi, selain kurang syukur?"
Deleteinspiratif banget mba ...
ReplyDeleteTerima kasih, Mbak Nenny.
Delete