![]() |
pixabay |
Setiap purnama,
ada lolongan anjing terdengar. Katanya, itu bukan anjing, tapi serigala. Binatang
bertaring itu tinggal di gunung. Saat purnama mereka jalan-jalan. Bisa sampai
ke tanggul sungai, samping rumahku.
Aku dan adikku Qudrotul Bahiroh,
termasuk anak yang takut dengan anjing. Juga serigala. Meski hanya mendengar
lolongannya saja. Sebenarnya, ada binatang lain yang kutakuti juga. Pertama adalah
bebek, selanjutnya angsa, dan mentok. Tahu kan kalau ketiganya memiliki moncong
yang panjang. Dan memiliki suara yang nyaring. Di telingaku, saat itu, suaranya
seperti orang yang menghardik. Marah-marah.
Karena takut
pada bebek, aku pernah dinasihatin Eyang, “Sudah, dia enggak ngapa-ngapain.”
Malam itu aku bobok
di rumah Eyang. Saat kebelet pipis. Eyang memintaku ke kamar mandi sendiri. Padahal,
untuk ke kamar mandi, harus melewati kandang mentok. Hahaha. Gara-gara aku
takut, dua Eyang sampai terbangun. Mau tidak mau, akhirnya mereka menemani
hingga kamar mandi.
Kejadian yang
lebih seru bersama angsa juga pernah terjadi. Aku dan adikku ke Rumah Mbah
Sindu. Rumahnya ke arah utara dari rumah kami. Ketika turun dari sepeda, bapak menuntunnya.
Di belakang kami ada angsa. Dua sayapnya mengembang. Sepertinya mereka mengajak
menari bersama, tapi aku terhalang rasa takut. Aku lari. Angsa itu membuntuti. Adikku
jongkok. Entah takut, atu itu jurusnya menghindari angsa. Biasanya sih, dia
kalau takut memang gak bisa jalan. Kata orang desa, namanya kamitotolen. Saking
takutnya sampai gemetar tidak bisa ngapa-ngapain.
“Haish! Kamu lagi
ngapain?” tanya Bapak. Beliau belum sadar, anaknya dikejar angsa.
Ngoak-ngoak-ngoaaak!
Bunyi angsa
membuat Bapak menoleh.
“Uwis mandeg! Meneng baen. Ora bakal ngapa-ngapa. Nek koe mlayu ya malah dioyok!”
“Uwis mandeg! Meneng baen. Ora bakal ngapa-ngapa. Nek koe mlayu ya malah dioyok!”
Bapak memintaku
diam. Berhenti. Kata beliau, angsa tidak akan bertingkah saat kita diam. Tapi,
bila kita lari, angsa akan mengejar. Tapi, manalah mungkin aku berhenti. Aku justeru
tambah kencang berlari. Memutari sepeda Bapak. Wajah Bapak tampak
menertawakanku. Akhirnya, angsa itu diusir hanya dengan suara, “Hush! Hush!
Hush!” sambil mengacung-acungkan tangan. Aku melongo. Ternyata hanya begitu?
Di satu malam
purnama. Anak-anak desa biasa bermain apa saja. Ada yang jonjangan, dos-dosan,
sampai petak umpet. Jonjangan itu pertamanya kita harus suit. Yang kalah
mengejar yang menang. Sampai tersentuh. Kalau tidak bisa menyentuh teman lain,
maka selamanya dia menjadi orang yang ‘masang’. Pengejar teman lain.
Dos-dosan ini
paling seru. Dua kubu anak bermain. Satu kubu bisa ada dua, hingga bilangan tak
terhingga. Pokoknya, seberapa banyak anak pun bisa bermain. Dua kubu memiliki
gawang. Jika kubu lawan mampu berlari melintasi tengah gawang, itu artinya Dos.
Mereka menang.
Satu anak bisa
maju lebih dulu, anak dari kubu lain mengejar. Nah, kejar-kejaran ini tidak
dibatasi jaraknya. Kita bahkan bisa lari sejauh mungkin. Jauh dari halaman
rumah Eyang, atau jauh dari dua gawang.
Aku dan adikku
berlari jauh. Sampai ke rumah orang yang memiliki TV. Saat itu, TV masih
langka. Kami lupa dengan peran masing-masing. Aturan, kami sedang bermain
dos-dosan dan saling kejar. Eh, kami malah nonton TV.
Begitu tersadar
akan permainan dos-dosan, kami menuju rumah Eyang. Di sanalah biasanya
anak-anak desa main. Rumah Eyang dekat dengan musala. Jadi, anak-anak yang baru
pulang dari musala bisa langsung gabung bermain. Halaman rumah Eyang luas. Kurasa,
luasnya dua kali lipat luas lapangan badminton.
Baru saja kakiku
melangkah, terdengar suara lolongan anjing. Aku menatap langit. Bulan tidak
jelas. Jalan remang-remang. Mendadak, seolah gelap. Adikku memegang kuat
lenganku. Wah, orang-orang khusyuk menonton TV. Anak-anak sudah tidak ada. Cengkeraman
tangan adikku bertambah kuat. Lolongan anjing bertambah nyaring.
“Mbak, itu apa
di bawah pohon pisang?”
Aku melihat ke
arah telunjuk adikku menunjuk. Ada bayangan, atau benda hitam bergoyang-goyang.
Tapi, aku tidak yakin jika itu anjing.
“Mbak, itu
mbaung, Mbak,” kata adikku.
Mbaung adalah
kata lain dari anjing. Dengan debaran jantung yang tak menentu. Aku melangkah
pelan. Bukan menjauhi, tapi mendekati benda
yang terus bergoyang itu.
“Mbak! Ayo mlayu!” Adikku mengajak berlari. Dan benar saja dia
sudah ngacir. Aku ikut berlari, tapi kesandung barang yang bergoyang-goyang. Mau
tidak mau aku menoleh. Dan kalian tahu apa itu? Yah! Ternyata hanya bagian dari
pohon kelapa kering. Jika kalian pernah melihat batang daun kelapa, benda itu
biasanya ada di pangkalnya. Benda yang biasanya dimanfaatkan orang-orang desa
untuk menyulut api, jika tidak ada klari. Apa? Tidak tahu klari? Daun kelapa
kering. Ah, kalian belum tahu juga? Ya, kapan-kapan berkunjunglah ke desa kami.
Desa yang letaknya ada di pinggir kali. []
Pondok Cahaya,
Yk, 12 Mei 2017
Comments
Post a Comment
Terima kasih sudah berkunjung ... sangat senang bila Anda meninggalkan komentar, atau sharing di sini. Mohon tidak meninggalkan link hidup.
Salam santun sepenuh cinta
Kayla Mubara