Oleh : Kayla Mubara
![]() |
wallpaper |
A-Ta-Tsa ... Ta-Tsa ...
Netra Khumaira gapai udara
Dua tangan dalam belenggu rantai terikat jendela
Lesat netra tembus kelam malam, pun dingin embus pranayama
Netra Khumaira gapai udara
Dua tangan dalam belenggu rantai terikat jendela
Lesat netra tembus kelam malam, pun dingin embus pranayama
Dia masih menatap headline di lipatan koran
Berita pernikahan baru ayah
Sedang makam bunda masih basah
Khumaira mendesah
Dianggap gila, batin lelah
Masuk ruang isolasi, berkerangkeng pula
Aku tidak gila!
Jerit batin
Sbab mulut tiada dapat melafal aksara
Hanya dengan kristal-kristal netra
Gadis beralis tipis menguak bahasa
Pada batang-batang kamboja di luar jendela
Di antara gundukan rerumput pemakaman tua
Seolah .... Di sana bunda menatapnya
Khu-mai-ra ... Sal-sa-bi-la ...
A-Ta-Tsa ... Ta-Tsa ...
Netra Khumaira melangit, mengangkasa
Dua tangan melepuh; luka-luka
Tatap lekat sipir-sipir; penjaga
Kembara luka dari Rumah Sakit Jiwa hingga penjara
Sulam hujan netra jadi dedo'a penghantar pinta
Sulam hujan netra jadi dedo'a penghantar pinta
Pondok Cahaya-Yk, 05.09.2015
Kayla Mubara adalah nama pena dari Khulatul Mubarokah, Baginya aksara
adalah sarana membaca kalam-Nya. Pemuisi dapat disapa melalui akun FB :
Kayla Mubara (Khulatul Mubarokah), Twitter : @KMubarokah dan blog : www.kaylamubara.blogspot.com
Puisi ini adalah proses pembelajaran (juara kedua) saat Grand Final Sayembara Cipta Puisi : Ketika Daun-daun Membahasakan Nestapa (perihal air mata) di KBM (Komunitas Bisa Menulis)
Sumber dari sini
sip sip... salam menulis, lam kenal
ReplyDeleteOke. Siap. Salam kenal, Ibu Agustina Purwantini ...
DeletePuisinya sesuatu bangeet....
ReplyDeleteSarat makna terdalam..
Jabat hati dr penikmat puisi bunda Keyla
Semoga bermanfaat. Jabat erat hati dari pembeajar kecil di tepian Yogyakarta ...
Deletegud...
ReplyDeleteehm, kykx bunda suka banget pake si 'netra' hehehe....
Hehe. Malu nih ketahuan. :)
DeleteMasih belajar, nanti nyari padanannya yang agak beda.